You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Desa Rupe
Desa Rupe

Kec. Langgudu, Kab. Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat

Selamat Datang di Website Resmi Pemerintah Desa Rupe Kecamatan Langgudu Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat Website ini mengunakan Aplikasi OpenSID, dirancang dan dikelola supaya terbuka bagi masyarakat dan pemangku kebijakan #SahabatDesa, disini anda bisa mengakses informasi tentang Penyelenggaraan Kepemerintahan, Pembangunan Kawasan Pedesaan, Pemberdayaan dan Pembinaan Kemasyarakatan Untuk Informasi Pengajuan Publik, silahkan klik menu e-PPID atau Layanan Mandiri. Informasi lebih lanjut Hubungi Operator Desa Jam Pelayanan Senin s.d Jum'at Pukul 08.00 - 15.30 wita. Alamat Kantor, Jl. Lintas Provinsi Tente – Karumbu. Hari Libur : TUTUP Informasi lainnya, dapat juga diakses melalui Halaman Facebook Pemerintah Desa Rupe. Terus Update dan ikuti Perkembangan informasinya. Terimakasih, Salam Berdesa!!!

DESA RUPE MASIH KENTAL DENGAN BUDAYA GOTONG ROYONG PINDAH RUMAH (HANTA PINDA UMA)

Administrator 31 Mei 2024 Dibaca 332 Kali
DESA RUPE MASIH KENTAL DENGAN BUDAYA GOTONG ROYONG PINDAH RUMAH (HANTA PINDA UMA)

Bima- Rupe.Id-  Di Era Perkembangan Jaman Yang Cukup Pesat, Dimana Dengan Arah Kemajuan Pembangunan Yang Cukup Meningkat Kegiatan Bergotong Royong Warga Hampir Hilang. Akan Tetapi Di Desa Rupe Selain Merima Arah Kemajuan Wargapun Tidak Melupakan Budaya Dan Tradisi Gotong Royong. Di Indonesia Ada Tradisi Pindah Rumah atau dalam Bahasa Bima ‘’HANTA PINDA UMA’’ Dengan Cara Diangkat Satu Rumah Utuh Tanpa Di Bongkar Terlebih Dahulu. Hal Itu Merupakan Tradisi Di Beberapa Daerah Di Indonesia, Salah Satunya Sulawesi Selatan. Tradisi Ini Bernama Marakka' Bola Di Kabupaten Barru Atau Disebut Masoppo Bola Di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan Dan Di Nusa Tenggara Barat Tepatnya Di Bima.
Alasan Mengapa Kemudian Satu Rumah Di Angkat Tanpa Membongkar, Supaya Rumah Tersebut Tetap Dijaga Keutuhannya.

Pagi Hari Buta Masyarakat Desa Rupe Bersama Sama Berkumpul Di Satu Titik Dimana Rumah Tersebut Di Anggat, Dalam Kegiatan Ini Semua Ikut Terlibat Berpatisipasi Antara Lain, Pemerintah Desa, Babinsa, Pemuda ANTI TANK, Dan Masyarakat Pada Umunya. Jumat 31/5/2024.

Kegiatan Angkat Rumah Di Rt 02 Rw 02 Desa Rupe Kali Ini, Tidak Di Pindah Ke Tempat Yang Jauh Melainkan Hanya Di Geser Pindah Posisi Supaya Tanah Warisan Tersebut Bisa Di Bangunkan Satu Rumah Batu. Ujarnya SUBHAN (Pemilik Rumah)

Tampak Jelas Mereka Kerjasama Menyatukan Tenaga Dan Kekuatan Untuk Mengangkat Rumah, Di Bawa Satu Komando Akhirnya Satu Rumah Beserta Isinya Bisa Di Geser Sesuai Titik Keinginan Pemilik Rumah. Menurut Wahyudin Selaku Pemuda Anti Tank, Kita Berharap Ke Depan Gotong Royong Dan Kerjasama Warga Tetap Terpelihara Dengan Baik. “Itulah Perbedaan Di Desa Dengan Di Kota,” Ungkap Mhank Dan Abdul Basir. Bukan Hanya Wahyudin . Chapunk, Sebagai Alumni Makassar Juga Mengatakan, Angkat Rumah Merupakan Tradisi Korsa Yang Tetap Dilestarikan Agar Menambah Silaturahmi Dan Solidaritas Yang Tinggi Sesama Warga, Dan Hal Seperti Ini Masih Dibudayakan Oleh Sanak Saudara Kita Yang Di Sulawesi Selatan. Apalagi Di Rupe Itu Tak Ada Orang Lain Semuanya Berkeluarga. ‘’Sebagai Pemuda Tangguh Yang Bersosial Tinggi Sudah Seharusnya Kita Mempersuasif Diri Kita Untuk Berpatisipasi Dalam Hal Seperti Ini, Agar Generasi Berikutnya Tidak Ketinggalan Dengan Value Atau Nilai Budaya Dan Tradisi Yang Ada Di Daerah Kita. Tutupnya (Pemuda Umumnya).

Proses Pengangkatan Rumah
Sebelum Mengangkat Rumah, Hal Pertama Yang Harus Dilakukan Adalah Mengeluarkan Barang-Barang Mudah Pecah Dan Mudah Bergerak. Contohnya Piring, Gelas, Dan Barang-Barang Elektronik Lainnya.

Namun, Barang-Barang Berat Seperti Lemari, Tempat Tidur Dan Sebagainya Yang Akan Merepotkan Jika Dikeluarkan, Akan Tetap Dipertahankan Di Dalam Rumah Selama Tidak Berpengaruh Signifikan Terhadap Berat Rumah Ketika Akan Diangkat Atau Didorong. Agar Tidak Jatuh Ke Lantai Yang Terbuat Dari Kayu, Barang-Barang Tersebut Dirapatkan Ke Tiang-Tiang Rumah Yang Terbuat Dari Kayu Lalu Diikat.

Tiang-Tiang Rumah Yang Akan Diangkat Harus Dipasang Bambu Terlebih Dahulu. Bambu-Bambu Itulah Yang Nantinya Menjadi Tempat Pegangan Untuk Mengangkat Rumah.

Tak Sembarangan, Proses Pemindahan Dipimpin Oleh Seorang Ketua Adat, Sebab Diperlukan Ekstra Kerja Sama Untuk Memindahkan Rumah Tersebut, Seperti Menyamakan Irama Langkah Kaki Agar Dapat Berjalan Beriringan. Maka Tak Ayal Kegiatan Ini Jadi Ajang Gotong Royong Bagi Masyarakat Desa Rupe.

Disisi Lain Dari Pemuda Atau Warga Yang Mengangkat Rumah Ada Peran Domestik Ibu-Ibu Yang Bertugas Menyemangati Para Suami Dan Anak-Anaknya, Selain Itu Juga Ibu- Ibu Bertugas Untuk Membuat Hidangan Makanan, Nah Di Desa Rupe Sebelum Proses Angkat Rumah Di Mulai, Warga Dihidangi Dengan ‘’Ngaha Kamada (Oha Santa+Ni’u Gola Kala)’’ Atau Dalam Bahasa Indonesianya Adalah Nasi Beras Ketan Dicampuri Kelapayang Sudah Dicampuri Gula Merah.

Kegitan ini dihadiri pemerintah desa, BPD, tokoh masyrakat, pemuda ANTI TANK, warga setempat.

*semoga kegiatan atau tradisi seperti ini tetap terjaga nilainya sehingga generasi berikutnya bisa mengikuti jejak gotong royong dan selalu dikenang dan diwarisi ke generasi berikutnya, Sejarah takan membuat buta dalam bertindak tapi Sejarah menjadi petunjuk yang menentukan arahmu kedepannya* (igail097)

 

Writer : lanang.

 

Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image